Masalah Sensitif

Lama ngga update ini blog, jadi kepengen nulis lagi nih, maaf deh kalo lama ngga mengupdate blog ini..

Kemarin minggu alias ahad, tanggal 28 Oktober lalu, aku bersama teman – teman KKN-ku Aldani Malau dan bu bos kormasit Sub Unit II Pita berkunjung ke tempat KKN-ku dulu di gamplong, sebuah desa yang terletak di perbatasan antar tiga kabupaten di jogja, yaitu Sleman, Kulon Progo, dan Bantul.

Berhubung si bu bos bisanya setelah jam 2 akhirnya kami pun berangkat sehabis itu, sekitaran jam setengah tigaan.. mampir sebentar di masjid dekat perempatan ringroad yang menuju godean untuk sholat ashar, akhirnya kami pun sampai di gamplong sekitaran setengah empat.

Di gamplong sewaktu KKN dulu kami tinggal dengan pak dukuh (lebih kecil daripada dusun), sehingga tujuan kami pun kesana, Betapa senangnya orang – orang disana dikunjungi setelah sekian lama tidak bertemu, langsung deh disuguhkan makanan khas orang desa.. lumayanlah..

Lho apa hubungannya dengan judul diatas ?

Nah ketika sedang berada disana seorang teman di daerah Surabaya sana, saya sebut saja Ms.S, mengirim SMS buat saya isinya :

” Zi, boleh minta tolong ?”

Akupun membalas “ada apa ?”

Tak lama kemudian dia membalas

(Wahhh… SMS-nya dah kehapus… hiksss kebanyakan sms-an ama bos sih…)
kalo ngga salah inget yaa… isinya begini :

“Aku tahu ini masalah Senisitif, jadi gini, aku ,menghilangkan duit 6,8 juta, sebuah angka yang sangat besar buatku”

“Waduh, maaf Ms.S, aku tak dapat membantumu, sumpah duitku pun nilai komanya aja ngga sampe, emang uangnya buat apa ?” balasku..

“Buat bayar warnet dan uang kontrakan.. dzi”.. Ms. S membalasnya..

“Trus kenapa tidak ngomong sama orang tua ? saya kira nantinya ada jalan keluar terbaik dari orang tua-mu..” aku membalas SMS-nya lagi.

“Masalahnya dzi, kakak-ku mau menikah jadi pengeluaran keluargaku lagi besar ” jawabnya lagi si Ms.S.

“Waduh, Ms.S, sekali lagi maaf aku tidak dapat membantu mu banyak, aku hanya dapat kasih nasehat buat kamu”…

Nah aku pun pernah mengalami hal serupa yang dialami si Ms.S itu, tapi kasusnya beda.. aku mbaret mobil X-Trail bapakku di kampus, walhasil pintu sebelah kiri dari depan sampai belakang mbaret dalam… padahal sore hari itu bapak – ibuku datang dari bandung sehabis acara dinasnya bapakku di sana..

Aku pun panik dan pucat pasi melihat keadaaan itu.., akhirnya akupun menghubungi bengkel nissan tempat biasa mobil itu diservice, ehh ternyata mereka tidak dapat mereparasinya, mereka merekomendasikan tempat lain dan memberikan nomernya..

Setelah dihubungi dan tanya ini itu, akhirnya diperlukan setidaknya 2 minggu dan duit reperasi sebesar 4 – 5 juta, wow sebuah angka fantastis buatku yang hanya dikasi 500rb buat jajan setiap bulan… hiksss..

Akhirnya aku pun jujur sama orang tua.., awalnya sih mereka pada marah sama saya, disumpah – sumpahin, soalnya itu mobil masih baru dan tentunya belum LUNAS !!… tapi untungnya selama masih dalam kredit harus ada asuransi…

Akhirnya claim asuransi dehh… mobilnya 2 minggu di bengkel, kembali dengan keadaan baik seperti semula…
Akhirnya bapakku menasehatiku : Lain kali hati – hati ya.. !

Nah inti dari cerita ini, selama masih ada orang tua, yang bertanggung jawab atas anak – anaknya mengapa kita tidak berusaha jujur sama mereka kalo kita sedang berada dalam masalah.. toh cepat atau lambat mereka pasti akan tahu.. dan mereka pun dapat memberikan solusi yang terbaik…

Semoga bermanfaat buat temanku si Ms.S.

6 Tanggapan ke “Masalah Sensitif”


  1. 1 Shelling Ford November 2, 2007 pukul 8:16 am

    kenapa namanya bukan Mawar atau Bunga, ji?
    biar mirip korban pemerkosaan, gitu…

  2. 2 ibu Bos, Dinda ^,^ November 4, 2007 pukul 10:11 am

    sedih yah…hummm.. kalo aku kemaren di Jakarta, di rumah saudaraku. tau2 teman saudaraku itu (sebaya lah, sama kita), dateng..dan menjelaskan permasalahannya. bahwa dia baru aja kehilangan 10 juta. dan minta pinjam dari saudaraku itu, tapi ya jelaslaaaah..gak ada.. dan sungguh disayangkan, kudz, dia sudah tidak punya mama. dulu waktu kelas 6 papanya meninggal, dan mamanya menikah lagi. sewaktu dia SMU, mamanyapun meninggal. dan dia sekarang tinggal ma neneknya yang sudah renta(bahasanya..hahaha). kalo kaya gini gimana donk?

  3. 3 ibu Bos, Dinda ^,^ November 4, 2007 pukul 10:15 am

    ohya…setelah mamanya meninggal, papa tirinya nikah lagi dan membawa pergi adik nya..sehingga diapun akhirnya hidup sebatang kara…*ngiiiiiiiinggggg*

  4. 4 alle November 5, 2007 pukul 6:00 am

    setuju sama joe,.
    Bunga (bukan nama sebenarnya)
    hehehe,..

  5. 5 wib November 9, 2007 pukul 2:14 pm

    ow…
    jadi masalah sensitifnya itu duit.
    hhh….
    knapa gak kamu cetakin aja ji, kan gampang..
    huahaha…

  6. 6 tepe November 16, 2007 pukul 2:17 am

    Nah inti dari cerita ini, selama masih ada orang tua, yang bertanggung jawab atas anak – anaknya mengapa kita tidak berusaha jujur sama mereka kalo kita sedang berada dalam masalah.. toh cepat atau lambat mereka pasti akan tahu.. dan mereka pun dapat memberikan solusi yang terbaik…

    udah jujur belum kalo om yusuf punya calon mantu?


Tinggalkan Balasan




It’s Me !!

Aku Doonk !

Hanyalah seorang kudzi, siapa dia ? terlalu kecil untuk dunia ini... orang selalu berfikir bagaimana mengubah dunia... dengan cita - cita menggantung setinggi langit... walau tak mungkin dapat dicapai... namun pernahkah kita berfikir untuk mengubah diri kita sendiri ? semoga dengan menulis dapat mengubah diriku ini...

Cari Saya Y ?

quet_see02

quet_see02@yahoo.com

Me @ FS

Tolonggg yaa… aku tuh ngga pernah ngutang….!!!!

Pernah Ngutang di KANTINMILAN

Tanggal Sekarang

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Informasi tentang Anda

Orang - orang yang tersesat

  • 9,928 Orang.....

Ikutan Lomba Juga ahhh….

The Visitors Come From

Usaha Usaha….

Blog ini dilindungi Komentar Tak Perlu

RSS Berita Olahraga dari kompas.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Nonton Film Yukkk

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.